Laman

Senin, 22 Juni 2020

puisi #1 : remuk redam

Remuk Redam

Terburai.
Terserak bagai ombak.
Jiwa yang satu,
kini hancur satu-satu.

Sepi.
Malam ini sunyi.
Rintihan yang tertahan menekan-nekan tiap bagian rusuk ini.
Berujung hembusan nafas yang terdengar,
tanda diri ini lagi-lagi telah kalah dan tumbang.

Tak satu nyawa pun dapat melihat.
Tak satu nyawa pun dapat merasa.
Tak satu nyawa pun dapat mendengar.

Ia belum pergi,
pun masih bergulat dengan hati.
Air mata yang kini telah kering,
sudah tak mampu lagi mendarat di pipi.
Hanya tersisa jiwa yang masih sedang beradu,
dan guratan hati yang sedang menjelaskan tentang luka,
ia pun bersaksi atas pertarungan ini.
Hingga selesai,
suatu hari nanti.

Oleh : Sabina Azzahra